Sejarah Vihara Girinaga Makassar, Saksi Bisu Ajaran Budha di Indonesia Timur

WisataMenarik.Com, Sejarah Vihara Girinaga Makassar, Saksi Bisu Ajaran Budha di Indonesia Timur – Indonesia sebagai bangsa memiliki fase-fase yang tidak terlepas dari kontroversi terutama tentang kebebasan berpendapat dan beragama. Poin pertama jelas terlihat sangat terkekang di era Presiden Suharto namun tidak banyak yang tahu bahwa, identitas agama selain Islam dan Kristen juga “tertekan” selama rezim sang bapak pembangunan. Lengsernya Suharto dengan reformasi akhirnya mengembalikan tradisi identitas dimana penganut agama-agama selain Islam dan Kristen mulai kembali dengan bebas untuk membangun tradisi identitas beragama mereka (Studi Cross Cultural UGM, 2014).

Luar Vihara Girinaga

Luar Vihara Girinaga

Terlepas dari masalah yang terjadi di era kelam tersebut, Indonesia kini telah berada dalam era yang jauh lebih terbuka dengan tenggang rasa dan semua wilayah termasuk di Timur Indonesia juga kini merasakan dampak kebebasan beragama. Fokus kita pada tulisan ini adalah tentang kota Makassar dimana kota yang terkenal dengan pantai Losari ini kini juga telah menjadi salah satu destinasi traveling baru dengan beragam daya tarik diantaranya wisata religi budaya. Selain Masjid Al Markaz, Masjid Raya Makassar dan Masjid Muhammad Cheng Hoo, terdapat lokasi wisata religi budaya yang memiliki background agama Budha yang bernama Vihara Girinaga Makassar.

Masuk Vihara Girinaga

Masuk Vihara Girinaga

Vihara yang pembangunannya dimulai pada tahun 1960-an ini adalah lambang keberagaman dan keakuran umat beragama di Indonesia terutama di Makassar. Terletak di Jl Gunung Salahutu, Makassar, vihara ini memiliki dua gedung utama dengan sembilan lantai yang memiliki fungsi khusus didalamnya.

Sejarah Keberagaman Agama di Makassar dan Perkembangan Vihara Girinaga

Makassar adalah wilayah yang didominasi oleh Islam karena suku Bugis dan Makassar yang notabene adalah adalah penduduk asli di sana juga menganut agam Islam. Di sisi lain, Kuil kaum Tionghoa di Makassar atau Klenteng dilabeli sebagai Vihara dan berada di bawah lingkup Lembaga Buddha yang akhirnya memberika double definition tentang tempat peribadahan pengikut agama Buddha meski klenteng sebenarnya terindikasi lebih dekat dengan agama Taoism dan Confucianism.

Pada abad pertama hingga abad ke-15, banyak klenteng dibangun di Makassar oleh koloni dari Tiongkok, yang datang untuk berdagang. Namun, bangunan klenteng itu tidak bersifat permanen. Bangunan yang dikhusukan untuk beragama ini mulai dibangun secara permanen pada 1600-an. Catatan sejarah tentang kebegaraman agama di Makassar kembali menjadi perhatian ketika Presiden Sukarno menjadi sosok utama dibalik kembalinya kebebasan beragama.

Pendeta Buddha Tjeng Tjong Ha menjadi sosok yang menginisiasi pembangunan vihara girinaga di Makassar. Pembangunan yang dimulai dengan bahan seadanya ini menjadi lokasi peribadatan umat Buddhisme yang saat itu bermayoritaskan kaum Tionghoa sejak awal tahun 1956. Tjeng Tjong Ha juga merupakan Ketua Perkumpulan organisasi bernama Sam Kauw Hwee yang juga menghimpun umat penganut taoism dan confucinism.

Seiring perkembangan dinamika dalam negeri, tempat peribadatan ini juga semakin berkembang dimana akhirnya pada tahun 1968, bangunan yang menjadi cikal bakal vihara giriniga didirikan. Pada awal pendiriannya juga vihara yang mendapatkan penghargaan dari Raja Kamboja ini sempat memiliki nama Vihara Tri Dharma yang kemudian berubah menjadi nama Vihara Girinaga pada era 90-an.

Meski sekarang terkesan megah dan jumawa dengan Pagoda yang menjadi lambang utamanya, bangunan vihara girinaga pada awalnya hanya memiliki beberapa ruangan seperti ruang perpustakaan, dharmasala dan altar. Kini vihara tersebut kerap menjadi pusat lokasi selebrasi hari-hari penting dalam agama Buddha. Bahkan salah satu klaim dari media yang pernah meliput acara di Vihara tersebut mengatakan bahwa vihara girinaga dapat menampung setidaknya seribuan lebih umat.

Fungsi dan Konstruksi Pagoda di Vihara Girinaga Makassar

Vihara Girinaga telah diakui sebagai vihara tertua di Makassar dan pengejewantahan posisinya semakin dilengkapkan dengan pembangunan bangunan berbentuk pagoda yang dimulai pada tahun 2000 silam. Pagoda yang memiliki sembilan lantai ini juga memiliki pembagian fungsi dimana lantai 1 hingga empat merupakan tempat peribadatan umat Buddha semenatara lima lantai tersisa adalah bagian dari pagoda. Sebagai catatan, Vihara Girinaga di Makassar ini adalah satu-satunya bangunan Pagoda di Indonesia yang berada di atas Vihara.

tempat ibadah Suhu/Sufu atau Bikkhu/Biksu

tempat ibadah Suhu/Sufu atau Bikkhu/Biksu

Sebelum melihat ke pintu masuk, para pengunjung akan dapat melihat sebuah pohon yang mungkin berusia setidaknya 70 tahun yang dipercaya dibawa langsung dari India. Lanjut ke lantai pertama, para pengunjung akan dapat melihat patung the sleeping Buddha yang konon katanya didatangkan langsung dari Kamboja.

The Sleeping Buddha

The Sleeping Buddha

Berlanjut ke lantai kedua, ada ruangan beribadah kaum Budha yang juga digunakan sebagai lokasi Sunday School.

Miniatur Angkor Watt

Miniatur Angkor Watt

Lantai ketiga juga digunakan untuk tempat beribadah yang diisi setidaknya lima buah patung yang memberikan kesan sejuk dan menenangkan. Lantai keempat dalam vihara girinaga ini dipergunakan untuk menjadi lokasi tempat para murid yang ingin berlatih koreografi menari dll dalam perayaan hari-hari besar dalam agama Buddha. Lantai lima dibiarkan kosong sementara lantai keenam dikhusukan untuk lokasi wisata.

Peringatan Vihara Girinaga

Peringatan Vihara Girinaga

Kesan miniatur destinasi ala Angkor Watt di Kamboja sangat terasa pada lantai ini. Lantai ke tujuh dan delapan disiapkan khusus untuk tempat peribadatan bhikkhu dan suhu yang diundang untuk memimpin peribadatan. Lantai teratas yakni lantai sembilan diisi relik berwarna emas dengan banyak ornamen berbentuk patung disekitarnya. Akses untuk mengelilingi dan mengunjungi tiap lantai dibuka untuk umum dan pengunjung tidak perlu takut harus naik turun tangga karena telah ada lift yang akan membantu mempercepat mobilisasi pengunjung di tiap lantainya.

Miniatur Angkor Watt

Miniatur Angkor Watt

Pengakuan dan Penghargaan Internasional untuk Vihara Girinaga

Seperti yang telah kami ungkapkan sebelumnya, vihara girinaga tidak hanya berhasil menjadi simbol harmonis umat beragama di Indonesia terutama di Makassar tetapi juga menjadi daya tarik dengan berbagai pengakuan internasional. Dalam sebuah wawancara blogger Kompasiana, petugas penjaga vihara Girinaga mengakui bahwa vihara tersebut kerap dikunjungi oleh tidak hanya wisatawan lokal dan mancanegara tetapi juga para bhikkhu dari Kamboja, Thailand serta Myanmar.

Relig Berwarna Emas

Relig Berwarna Emas

Visitee dari bhikkhu-bhikkhu ternama ini jelas menjadi bentuk pengakuan tersendiri bagi vihara girinaga yang memiliki sejarah yang cukup humble jika dibanding dengan beberapa tempat peribadatan umat Buddha lainnya di bagian dunia yang lain. Tidak berhenti disitu, vihara girinaga juga mendapatkan penghargaan khusus dari Raja Kamboja. Penghargaan berbentuk Piagam Kerjasama Budaya ini adalah penghargaan tertinggi dalam tatanan kebudayaan dari negara tersebut.

Patung Sang Buddha

Patung Sang Buddha

Proses penyerahan piagam dan miniatur simbol kerajaan Kamboja berlangsung dalam upacara resmi di Istana Raja Kamboja yang penyerahaannya dilakukan langsung oleh sang raja Narodom Sihamony kepada pengurus vihara girinaga.

Patung Arahat Sivali

Patung Arahat Sivali

Dengan penghargaan ini, rasanya cukup pantas bagi viharaga girinaga menjadi destinasi wisata layaknya negara Kamboja yang kaya dengan pagoda-pagodanya. Tidak salah rasanya bagi mereka yang ingin merasakan atmosfir berwisata ke Kamboja untuk mengunjungi Vihara Girinaga di Makassar.  Selain tidak memerlukan biaya masuk, para pengunjung juga akan disuguhkan berbagai ornamen dan benda-benda antik yang merupakan lambang dari agama Buddha.