Makam Raja-raja Tallo Makassar, Peninggalan Sejarah Leluhur yang Sakral

WisataMenarik.Com, Makam Raja-raja Tallo Makassar, Peninggalan Sejarah Leluhur yang Sakral – Kota Makassar memang kota yang sangat indah dan cukup sering dikunjungi oleh wisatawan, khususnya karena wisata budaya yang cukup menarik seperti Pantai Losari, Pantai Akkarena, Masjid Terapung dan masih banyak lainnya. Tetapi di kota Makassar juga, terdapat situs budaya yang cukup kelam dan merupakan salah astu peninggalan sejarah bangsa kita. Salah satu situs budaya tersebut adalah Makam Raja-raja Tallo yang lokasinya berada di kelurahan Tallo, kecamatan Tallo, jika dair kota Makassar letaknya berada sekitar 7 kilometer ke arah utara.

Destinasi Wisata Makam Raja-raja Tallo

Destinasi Wisata Makam Raja-raja Tallo

Sejarah Makam Raja-raja Tallo Makassar

Makam raja-raja Tallo ini sudah dibangun sejak abad ke 17, dan menjadi tempat yang bersejarah karena dijadikan makan bagi raja-raja Tallo sejak abad 17 hingga abad 19. Komplek Makam Raja-raja Tallo berada di sudut timur laut, yang berada dalam ruang lingkup Benteng Tallo, dengan luas sekitar 9.225 meter persegi dan didalamnya terdapat 78 buah makam. Meskipun begitu, benteng Tallo kondisinya sudah lumayan buruk, karena hanya tersesisa sisa-sisa benteng pada sisi utara, selatan, dan barat saja. Dan daerah benteng yang sekarang sudah menjadi tempat tinggal penduduk setempat, tepat disekitar makam.

Makam ini cukup ini karena bentuknya yang seperti candi, dan terbuat dari batu bata yang menggunakan tanah liat dan batu cadas.  Selain itu, dari 78 makam yang ada di kompleks makam raja-raja tallo, hanya sekitar 20 makam yang sudah diidentifikasi seperti makam Syaifuddin yang merupakan sultan ke sebelas, La oddang Riu Daeng Mangeppe yang merupakan sultan keenam belas, Sultan Muzaffar yang pernah menjadi raja Tallo ketujuh, dan lain-lain.

Wisata Makam Raja-raja Tallo

Wisata Makam Raja-raja Tallo

Sebenarnya kerajaan Tallo sudah berdiri sejak pertengahan abad ke 15, tepatnya setelah wafatnya Tonatangkalopi yang merupakan raja Gowa ke 6. Karena ayahnya sudah wafat, raja ke 7 Batara Gowa Tuminanga Ri Paralakkenna menjadi penerus kerajaan ini, dan adiknya yang bernama Karaeng Loe Ri Sero bertugas memerintah sebagian wilayah dari kerajaan Tallo dengan jabatan Raja Tallo pertama. Daerah yang dikuasai oleh kerajaan Tallo meliputi Parang Loe, Moncong Loe, Saumata,  dan Pannampu.

Kuburan Makam Raja-raja Tallo

Kuburan Makam Raja-raja Tallo

Dulu, kerajaan Tallo dan Gowa selalu bertempur, yang mengakibatkan kerajaan Tallo yang kalah. Sehingga pada pemerintahan Tonipalangga Ulaweng, raja Gowa ke 10 dan Daeng Padulu, Raja Tallo ke 4, dibuat kesepakatan dimana rakyat memiliki 2 raja, tetapi dengan hirarki Raja Gowa menduduki Raja tertingi dan Raja Tallo menjadi perdana menteri dari kedua kerajaan, kesepakatan ini bernama Rua Karaeng se’re ata. Karena hal itu, Kerajaan Tallo harus mendukung dan terlibat dalam kegiatan ekspansi atau perluasan wilayah kerajaan Gowa di daerah Sulawesi Selatan dan sekitarnya.

Karena merupakan situs budaya yang cukup menarik dan ingin dikenal, pada tahun 1974-1975, dan tahun 1981-1982, kompleks makam raja-raja Tallo Makassar dipugar melalui Ditjen Kebudayaan, direktoran perlindungan dan pembinaan peninggalan sejarah dan purbakala, dan juga departemen pendidikan dan kebudayaan oleh pemerintah. Bangunan ini dipugar, dan dibuat sedemikian rupa agar terlihat lebih rapih, terutama karena ditanam pohon agar terlihat asri, dan adanya pepohonan rindang, sehingga kompleks makam raja-raja Tallo ini dijadikan objek wisata dan budaya yang terbuka.

Lokasi Makam Raja-raja Tallo Makassar

Untuk mencapainya cukup mudah, karena lokasinya yang cukup strategis yaitu berada dekat pintu tol Tallo, melalui jalur toll ir Sutami dan melalui jalan toll pelabuhan, kedua jalan ini memberikan akses dari Bandara Sultan Hassanudin ataupun dari pusat kota Makassar. Jika kalian yang datang dari luar kota, dapat mencoba menggunakan taksi ataupun angkutan kota.

Kompleks pemakaman ini dibuka setiap hari dan dapat bebas didatangi oleh masyarakat. Karena kompleks ini merupakan situs budaya edukasional, pengunjung yang biasa datang adalah rombongan siswa sekolah dan peziarah, tetapi tidak jarang ada wisatawan yang datang hanya melihat-lihat saja. Titik paling ramai dari area kompleks ini biasanya saat waktu-waktu libur atau tanggal merah, bulan muharram atau saat menjelang ramadhan. Meskipun begitu, para wisatawan yang datang harus menjaga ketertiban sebagai bentuk penghormatan terhadap raja-raja yang telah gugur, selain itu kompleks makam ini juga merupakan salah satu objek penelitian.

Makam Daeng Riboko

Makam Daeng Riboko

Di dalam area kompleks ini terdapat tiga jenis makam yaitu kubang, kubah, dan papan batu. Tipe kubang dibentuk adri susunan balok yang berbentuk persegi,  sehingga menyerupai susunan balok candi yang ada di Jawa, terdiri dari atap, tubuh, dan kaki. Tipe kubah sendiri adalah bangunan melengkung beratap seperti kubah yang menutupi makam di dalamnya, dapat juga dijumpai di daerah Timor dan Tedore, dan  jenis terakhir yaitu papan batu adalah model bangunan kayu empat persegi panjang, yang terbuat dari bilahan papan batu. Ketiga makam ini memiliki hiasan yang cukup bervariasi, seperti medallion, panel persegi berisi ukiran pola geometris, dan Tumpal.

Batu Nissan Makam Raja-raja Tallo Makassar

Batu Nissan Makam Raja-raja Tallo Makassar

Relief Arab di Makam Raja-raja Tallo

Relief Arab di Makam Raja-raja Tallo

Dari semua jenis makam ini, sebagian besarnya terbuat dari susunan batu andesit dan sisanya batu bata. Kompleks ini cukup terawat karena adanya petugas kebersihan yang menjaganya dan kompleks ini juga cukup nyaman untuk dilewati karena suasana daerah yang memang sejuk dan adanya pohon-pohon yang tumbuh besar disekitarnya. di area kanan belakang rumah panggung yang dapat menjadi tempat beristirahat setelah berkeliling di sekitar kompleks yang cukup luas.

Pada bagian kiri depan kompleks makam, ada lokasi pelantikan Raja Gowa Batu Pallantikang, selain beliau, ada 36 raja Gowa yang dilantik di lokasi ini. Pelantikan dimulai dari Raja Gowa pertama, Karaeng Tumanurung sampai ke Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin, yang merupakan raja ke 36 Gowa. Keberadaan Andi Ijo yang cukup signifikan di kerajaan sehingga membuat beliau menyatakan pemberhentian diri dan pemberhentian sistem kerjaan, sebagai gantinya Andi Ijo menjadi Bupati Gowa pertama setelah bergabung dengan Indonesia pada 1978. Lokasi pelantikan ini juga cukup sacral, dikarenakan tempat ini merupakan tempat raja-raja mendapatkan gelar resmi.

Komplek Makam Raja-raja Tallo

Komplek Makam Raja-raja Tallo

Dari sekitar 78 makam yang ada, kompleks yang paling sering dikunjungi dan memang ingin masyarakat datangi adalah Sultan Mudaffar, yang merupakan raja Tallo ke 8 dengan gelar Karaeng Kanjilo Ammalianga Ri Timoro dan merupakan anak dari Raja pertama Tallo yang menganut agama islam yaitu Kareng Matoaya I Malingkaang Daeng Mannyonri. Sultan mudaffar juga cukup terkenal karena dulunya dia cukup gigih bekerja dalam memimpin peperangan, sampai mendapat julukan Macang Kebo Karaeng Tallo atau dengan sebutan Macan Putih Raja Tallo. Selain itu, makam sultah Hassanudin juga cukup sering dikunjungi karena namanya  yang memang cukup terkenal di dalam sejarah. Makamnya diberi tanda ayam janda, yang merupakan julukan pemberian Laksamana Cornelis Speelman di saat jaman penjajahan dahulu.

Bagi para wisatawan yang sedang berada di Makassar, tidak perlu ragu untuk datang ke Kompleks makam raja-raja Tallo. Tidak seperti makam lainnya, kompleks makam ini difasilitasi oleh pemerintah, dan terdapat fasilitas umum seperti gazebo, aula pertemuan, dan toilet.